Ghanta Yoga

Menjadikan Hidup Lebih Profesional Sesuai Fungsi (Swadharma)

PURA PONJOK BATU

PURA PONJOK BATU DI BULELENG

Lingkungan Pura Ponjok Batu merupakan sebuah tanjung yang terdiri dari batu dimana dari celah-celah batu tersebut tumbuh pohon kamboja dan semak yang sangat indah. Dalam bahasa Bali “Ponjok Batu” berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/persembahyangan umum untuk mohon keselamatan. Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya meuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Lokasi

Lingkungan Pura Ponjok Batu ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pantai Utara pulau Bali, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.

Kunjungan

Karena merupakan tempat persembahyangan umum, maka setiap odalan lingkungan pura ini banyak dikunjungi oleh pengunjung dari luar daerah Buleleng dan khususnya masyarakat setempat. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susuban batu-batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan. Sampai saat ini cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, terutama para wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke obyek-obyek wisata yang ada di sebelah Timur Kabupaten Buleleng. Seperti Desa Sembiran,tarian sakral wayang wong dan dalam perjalanan menuju Karangasem.

Deskripsi

Asal muasal berdirinya Pura atau Kahyangan ini erat hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha yang juga dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra, di dalam Dwijendra Tattwa antara lain dikisahkan sebagai berikut : Pada zaman pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong, sekitar tahun Isaka 1411 atau tahun 1489 M datanglah di Bali Danghyang Nirartha yang kemudian dikenal dengan sebutan Danghyang Dwijendra. Setelah beberapa lama beliau tinggal di Gelgel, maka pada suatu hari Danghyang Nirartha ingin meninjau daerah Bali di sebelah Utara Gunung (Den Bukit) yaitu Buleleng, yang seterusnya kalau tidak ada aral melintang beliau berniat akan terus menyeberang ke Sasak (Lombok). Sesudah beliau berjalan beberapa hari lamanya kemudian Danghyang Nirartha sampai pada suatu tempat di Pantai Utara Pulau Bali yang letaknya di sebelah barat laut Gunung Agung. Tempat itu berupa sebuah Tanjung yang terdiri dari batu batu, dan dari celah-celah batu tersebut tumbuh kayu-kayuan sehingga Tanjung Batu tersebut menjadi semak-semak. Di sana Danghyang Nirartha berhenti dan duduk di atas batu pada tempat yang agak tinggi untuk menikmati pemandangan laut Jawa yang terhampar luas yang sangat mengasyikkan dan menumbuhkan inspirasi baginya. Tidak dikisahkan entah sudah berapa lama Danghyang Nirartha berada di tempat itu, pada suatu hari tidak jauh dari tempat beliau duduk arah sebelah Timur terdampar sebuah perahu. Timbul keinginan beliau untuk mengetahui apa gerangan yang menyebabkan perahu tersebut terdampar, lalu tempat perahu itu terdampar didekatinya. Setelah diperiksa ternyata perahu itu mendapat kerusakan yaitu tiang layarnya patah dan layarnya robek-robek, sedang tali temalinya terputus. Anak buah dan nahkoda perahu tersebut terlempar ke pantai dalam keadaan mabuk laut dengan kondisi fisiknya sangat lemah dan tergeletak di atas pasir seakan-akan tidak berjiwa lagi. Danghyang Nirartha menyaksikan kondisi mereka yang sangat mengerikan dan menyedihkan itu menjadi iba hati, lalu segera memberikan pertolongan. Dengan kekuatan bathinnya, anak buah dan nahkoda perahu itu oleh Danghyang Nirartha diberikan babayon (tenaga) secara gaib, sehingga anak buah dan nahkoda perahu tersebut menjadi siuman dan sadarkan diri, dan tiada lama mereka sudah dapat duduk di atas pasir. Menyadari dirinya ditolong, lalu mereka menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Danghyang Nirartha, karena mereka yakin bahwa tanpa pertolongan beliau ini mereka pasti menemui ajalnya. Kemudian Danghyang Nirartha bertanya kepada anak buah dan nahkoda perahu tersebut demikian,”Darimana saudara sekalian ini?”, dan segera dijawab oleh nahkoda perahu itu,:”Ya Paduka Pandita, kami ini bertujuh (7 orang adalah berasal dari Sasak (Lombok), dan di dalam pelayaran ini kami mendapat bahaya yaitu sekitar kurang lebih 1 bulan perahu kami terombang-ambing oleh ombak dan gelombang laut serta kami sampai kehabisan bekal.” Seterusnya nahkoda perahu itu melanjutkan ceriteranya: “Entah sudah berapa lama kami tidak makan dan minum ditambah lagi mabuk laut, sehingga kami tidak sadarkan diri. Dalam siatuasi dan kondisi yang demikian, kami sudah tidak ada harapan hidup, dan nasib kami serahkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, yang akhirnya kami terdampar dan terlempar di pantai ini. Kami menghaturkan banyak terima kasih yang keluar dari hati nurani kami yang paling dalam atas belas kasihan dan pertolongan Paduka Pandita, yang berkenan menghidupkan kami kembali. Kami yakin tanpa belas kasihan dan pertolongan Paduka Pandita kami tidak akan mungkin hidup seperti sekarang,” demikian jawaban dan ceritera nahkoda perahu tersebut. Oleh karena ketujuh orang itu tampaknya sudah agak pulih kesehatannya, lalu Danghyang Nirartha memberitahu kepada mereka itu untuk membersihkan diri masing-masing dan minum air pada sebuah mata air yang baru saja timbul. Kemudian mereka disarankan mencari buah-buahan di dalam semak-semak untuk dimakan, dan setelah itu mereka lakukan , kemudian mereka beristirahat dan bermalam bersama Danghyang Nirartha disana. Di sana Danghyang Nirartha menyarankan, andaikata mereka akan kembali berlayar ke Sasak (lombok) sebaiknya esok harinya saja dan Danghyang Nirartha akan ikut ke Sasak (Lombok). Semua saran dan nasehat Danghyang Nirartha itu diturut dan ditaati oleh anak buah bersama nahkoda perahu tersebut, dan pada malam harinya mereka bermalam di sana. Tidak dikisahkan bagaimana gembira hatinya anak buah bersama nahkoda perahu tersebut, besoknya pagi-pagi mereka sudah bangun dalam keadaan fisik yang segar bugar sebagaimana keadaan sebelumnya. Menurut mereka hal ini terjadi tidak lain adalah berkat kekuatan bathin dan ketinggian ilmu gaibnya Danghyang Nirartha. Hari itu keadaan laut tenang karena tidak ada gelombang besar seperti hari kemarinnya, serta menurut hemat Danghyang Nirartha saat itu adalah waktu yang baik untuk berlayar ke Sasak (Lombok). Mereka lalu bersama-sama dengan mempergunakan perahu itu berlayar menuju ke Sasak (Lombok) dalam keadaan selamat dan sampai ke tempat tujuan, walaupun perahu itu tanpa layar. Sesudah tanjung Batu itu ditinggalkan oleh Danghyang Nirartha terjadilah keajaiban yang membuat orang-orang di sekitarnya terheran-heran, karena setiap malam hari di bekas tempat Danghyang Nirartha berhenti dan duduk itu batu-batunya menyala. Orang-orang itu ingin melihat dan membuktikan apa gerangan yang telah terjadi di atas batu-batu tersebut, sehingga setiap hari Tanjung Batu itu ramai dikunjungi orang. Mereka itu bukan saja ingin mengetahui mengenai keajaiban yang terjadi di sana, melainkan ingin mendapatkan keselamatan, lalu mereka melakukan persembahyangan di sana. Akhirnya di sana dibangun sebuah Pura atau kahyangan dengan bangunan sucinya berbentuk sebuah “Sanggar Agung” dan Pura atau Kahyangan itu diberi nama “Pura Ponjok Batu” sesuai dengan tempat itu yang merupakan tanjung batu. Kata “tanjung” sama dengan “ponjol” dalam bahasa Bali, sehingga kata “ponjok batu” berati “tanjung batu”, dan sekarang pura atau Kahyangan itu menjadi tempat persembahyangan umum, untuk memohon keselamatan. Tidak mustahil bahwa sampai sekarang sudah terjadi perubahan-perubahan dari aslinya pura atau kahyangan tersebut, baik mengenai arealnya maupun mengenai palinggih (banguna sucinya). Tentu saja perubahan-perubahan itu sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan penyungsungnya, namun yang jelas dilihat dari segi status dan fungsi dari Pura Ponjok Batu ini masih tetap sebagaimana semula. Dari uraian tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Pura Ponjok Batu ini tidak dapat dipisahkan dengan kisah perjalanannya Danghyang Nirartha.

source : ILoveBlue.com

Pura Ponjok Batu

Paropakaranam yesam, jagarti hrdaye satam
Nasyanti vipadas tesam, sampadah syuh pade pade.
(Canakya Nitisastra, XVII.15)

Maksudnya:

Beliau yang selalu dalam hatinya memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain, segala kesulitannya musnah dan memperoleh keberuntungan dalam setiap langkahnya.

HATI nurani Resi Vyasa sangat terkesan ikut berbahagia menyaksikan dua ekor induk burung dengan penuh kasih memberikan makan pada anak-anaknya. Curahan kasih sayang induk burung dengan anak-anaknya itu sangat menggetarkan hati Resi Vyasa yang sedang merenungkan keindahan alam di tepi Sungai Gangga. Sejak itu Resi Vyasa sangat ingin berputra agar dapat menyalurkan kasih sayang dengan hati nurani yang suci.

Karena kerinduan yang suci itu Dewa Narada datang pada Resi Vyasa. Dewa Narada menyatakan bahwa kalau Resi Vyasa ingin berputra, hidupnya harus melalui upaya mewujudkan empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha. Empat tujuan hidup itu adalah Dharma, Artha, Kama dan barulah dapat mencapai Moksha.

Kalau Resi Vyasa tidak menempuh hidup sukla Brahmacari beliau bisa hidup dengan hanya mencapai Dharma saja terus dapat mencapai Moksha. Sejak itulah Dewa Narada mengajarkan tentang Catur Purusartha pada Resi Vyasa. Dengan Catur Purusartha itulah umat penganut Veda tujuan hidupnya menjadi sangat jelas.

Demikian juga halnya Danghyang Dwijendra ketika sedang menikmati indahnya pemandangan alam berupa lautan yang berpadu dengan daratan dipayungi oleh langit biru di sebuah tanjung di Bali Utara. Pemandangan yang menggetarkan hati nurani sang Pandita itu sekarang terkenal dengan Ponjok Batu.

Danghyang Dwijendra sangat asyik menyaksikan indahnya pemandangan yang menggetarkan batin sang Pandita. Entah berapa lama Danghyang Dwijendra duduk di atas batu yang agak besar di tanjung tersebut. Sebagai seorang Pandita swadharma beliau hanyalah memikirkan kepentingan orang lain atau masyarakat luas agar bisa hidup sejahtera dan bahagia lahir batin.

Hal itulah yang senantiasa selalu dipikirkan sebagai seorang Pandita. Danghyang Dwijendra juga sedang asyik memikirkan untuk meninjau keadaan masyarakat di Sasak (Lombok). Untuk di Bali, Beliau merasa sudah banyak membantu Raja dalam memberikan tuntutan pada masyarakat di Bali.

Saat Beliau melepaskan pandangan ke laut lepas ke arah timur laut, Beliau melihat ada perahu kandas. Tiang layar perahu yang kandas itu patah, bocor dan tali-temalinya patah semua. Awaknya sejumlah tujuh orang juga dalam keadaan pingsan semuanya. Keadaan itu menyebabkan Danghyang Dwijendra naluri kepanditaan Beliau muncul. Beliau sangat iba melihat kenyataan itu dan berusaha memberi pertolongan pada awak perahu yang nasibnya lagi sial itu.

Dengan kekuatan rohani yang sangat mumpuni Danghyang Dwijendra berhasil membuat tujuh awak perahu itu siuman kembali. Tujuh awak perahu itu sangat berterima kasih pada Danghyang Dwijendra atas pertolongan yang Beliau berikan dengan kadar keikhlasan yang amat tinggi itu. Tanpa pertolongan Pandita Sakti itu mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup kembali.

Tujuh awak perahu itu pun menceritakan asal-usul terjadinya musibah yang menimpa diri mereka. Sesungguhnya mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup dalam musibah tersebut. Mereka sudah sangat pasrah atas nasib yang menimpa dirinya setelah berbagai usaha dilakukan atas kecelakaan tersebut. Ketujuh orang awak perahu itu menyatakan dirinya dari Sasak.

Dang Hyang Dwijendra menganjurkan agar mereka memperbaiki perahunya dengan seksama sebelum kembali ke Sasak. Tujuh awak perahu itu pun diberikan berbagai petunjuk dalam memahami dan dan mengatasi berbagai persoalan hidup di dunia ini. Semua petunjuk itu di ikuti oleh awak perahu dari Sasak itu.

Setelah beberapa lama awak perahu itu diajak bermalam di daerah Tejakula, Buleleng Utara itu tibalah gilirannya untuk bersiap-siap kembali ke Sasak. Danghyang Dwijendra pun menyatakan ikut karena memang sudah lama beliau niatkan untuk meninjau keadaan masyarakat Sasak. Pagi hari Beliau pun ikut berangkat ke Sasak dan sampai di Sasak dengan selamat.

Batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi di Bai Utara itu setiap malam mengeluarkan sinar yang sangat ajaib dan menimbulkan vibrasi spiritual yang sangat luar biasa. Karena itu, umat yang datang tidak semata-mata ingin menyaksikan batu-batu yang bersinar saja, tetapi mereka juga bersembahyang pada Hyang Widhi atau karunia itu.

Akhirnya umat mendirikan Pura yang diberi nama Ponjok Batu artinya tanjung batu. Pelinggih utama di Pura Ponjok Batu pada awalnya adalah dalam wujud Sanggar Agung. Pada mulanya Pura Ponjok Batu itu terletak di sebelah selatan jalan dengan areal yang tidak begitu luas.

Pura Ponjok Batu itu kini sudah diperluas dan berada di sebelah utara jalan dari Singaraja menuju Karangasem. Pura Ponjok Batu itu kini sudah jauh lebih megah dan luas sehingga mampu menampung umat yang cukup banyak, terutama saat ada upacara Pujawali atau hari raya keagamaan Hindu lainnya.

Mengapa sampai batu-batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi dan menolong awak perahu dari Sasak itu bersinar. Hal ini mungkin dapat kita pahami kalau ditinjau dari kacamata spiritual. Seorang Pandita menurut konsep Hindu adalah orang suci yang hidupnya hanya untuk memikirkan dan memperhatikan nasib orang lain. Demikian juga mereka yang ditolong juga sangat berterima kasih dan tulus menerima. Bertemunya dua ketulusan itulah menyebabkan turunnya anugerah Tuhan berupa vibrasi kesucian dalam wujud sinar itu.

* I Ketut Gobyah

Pura Ponjok Batu

Pura Ponjok Batu, Penyeimbang Bali Utara


Pura Ponjok Batu merupakan salah satu Penyungsungan Jagat atau Pura Dang Kahyangan, selain Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Gerokgak. Pura ini terletak di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Memang tidak ada data pasti mengenai awal keberadaan pura ini. Namun yang diketahui, keberadaan pura ini tak bisa lepas dari sejarah kedatangan Pendeta Siwa Sidanta yaitu Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke-15, saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

================================================== =========

Pura ini memiliki rekaman sejarah yang panjang dan unik. Hal tersebut ditelusuri lewat temuan arkeologi, efigrafi dan folklore (cerita rakyat) yang hidup di tengah masyarakat Julah dan sekitarnya.

Berdasarkan kajian arkeologis, saat penggalian di lokasi perbaikan pura tahun 1995 ditemukan sarkopah/sarkopagus. Kini sarkopah itu disimpan bersama sarkopah lainnya di halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih, Banjar. Sarkopah (peti mayat) terbuat dari batu cadas, banyak ditemukan di beberapa daerah di Bali.

Sistem penguburan menggunakan sarkopah berlangsung sejak zaman perundagian di Bali tahun 2500-3000 SM, atau sekitar 5.000 tahun lalu. Berarti di sekitar kawasan Pura Ponjok Batu pernah dihuni masyarakat yang mendukung budaya sarkopah. Sarkopah merupakan tempat disemayamkannya jasad orang yang dihormati masyarakat. Pada zaman perundagian, masyarakat percaya pemujaan roh nenek moyang dan orang-orang yang dihormati, seperti kepala suku atau ketua adat. Seperti halnya tradisi pembuatan mumi di Mesir, Babilonia, Siria dan lainnya.

Sementara menurut kajian efigrafi atau prasasti, Desa Julah sebagai pemukiman sangat ramai. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan raja-raja dari Dinasti Warmadewa, masing-masing masa pemerintahan Raja Sang Sri Aji Ugrasena (tahun 923 M), Raja Sri Aji Tabanendra Warmadewa (955 M), Raja Sri Janasadhu Warmadewa (975 M), Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa (1011 M), Raja Putri Sang Adnyadewi, Prabu Marakatta (1022-1026 M), Raja Sri Paduka Anak Wungsu dan Raja Sri Prabu Jayapangus (1181 M).

Raja-raja yang pernah berkuasa itu hampir semuanya pernah mengeluarkan prasasti tentang keberadaan Desa Julah. Di sana disebutkan pula bahwa tugasnya menjaga sebaik-baiknya semua pura yang ada di wilayah Desa Julah. Kendati tidak disebutkan dengan jelas tentang Pura Ponjok Batu, tetapi dipastikan Pura Ponjok Batu merupakan salah satu pura yang ikut dirawat. Di pura itu juga ditemukan beberapa patung, di antaranya patung Dewa Siwa, Nandini dan Ganesa. Ini merupakan petunjuk bahwa perhatian raja Dinasti Warmadewa terhadap Pura Ponjok Batu sangat besar.

Masa kekuasaan Warmadewa berlangsung sampai 1343, ditandai dengan jatuhnya Kerajaan Bedahulu oleh Majapahit. Selanjutnya pemerintahan di Bali dipegang Dinasti Kepakisan yang berpusat di Samprangan, lalu pindah ke Gelgel. Sampai kekuasaan Dalem Waturenggong, mulai ada perhatian terhadap Pura-pura di Bali

Utara/Denbukit. Diawali dengan kedatangan Danghyang Nirartha. Saat itu Pura-pura yang ada di Bali Utara mendapat kunjungan kembali dalam bentuk dharma yatra, mulai dari Pura Pulaki dan pura lainnya, termasuk Ponjok Batu.

Danghyang Nirartha kemudian melanjutkan perjalanannya ke Lombok, setelah menolong seorang bendega atau awak perahu asal Lombok, yang sedang karam di sekitar pantai Ponjok Batu. Dikisahkan, awak perahu itu melihat batu bersinar di tengah laut. Batu didatangi, dibelah. Tetapi kemudian mereka tidak bisa berangkat sampai datang pertolongan dari Danghyang Nirartha. Batu itu hingga kini masih ada di pantai Ponjok Batu.

Sejak kedatangan Danghyang Nirartha, nilai spiritual tempat suci kembali bangkit. Pura Ponjok Batu mulai memancarkan sinar secara terus-menerus, walaupun Danghyang Nirartha telah meninggalkan tempat itu menuju ke Lombok, seperti terungkap dalam lontar Dwijendra Tattwa.

Sementara berdasarkan folklore, Pura Ponjok Batu berasal dari cerita Ida Batara di Bali yang menimbang beratnya Bali Utara dari Pura Penimbangan di Desa Panji. Ternyata Bali Utara bagian timur lebih ringan. Maka Ida Batara menambah tumpukan batu di bagian timur Bali Utara sehingga timbangan itu menjadi seimbang.


Pura Ponjok Batu telah beberapa kali dipugar. Pemugaran terakhir dimulai 1994 hingga dilakukannya upacara Ngenteg Linggih pada Saniscara Wayang Karo, 8 Agustus 1998. Pura ini terbuat dari batu hitam yang didesain sedemikian rupa agar keberadaannya tetap kuat. Saat ini, pelinggih yang ada di Pura Ponjok Batu meliputi:
1. Padmasana
2. Pelinggih Dang Hyang Nirartha
3. Pelinggih Ciwa
4. Pelinggih Ganesa
5. Pelinggih Batara Baruna
6. Pelinggih Seluang
7. Pelinggih Ratu Ayu Pangenter
8. Pelinggih Taksu (Dewa Gede Ngurah)
9. Pelinggih Ratu Bagus Mas Pengukiran
10. Pelinggih Ratu Bagus Mas Subandar
11. Pelinggih Taksu (Ratu Bagus Penyarikan)
12. Bale Pesandekan
13. Bale Paselang
14. Bale Ongkara
15. Bale Gegitaan
16. Bale Reringgitan
17. Bale Kulkul
18. Bale Pegat
19. Bale Paninjoan

Sementara menurut pemangku di Pura Ponjok Batu Jro Mangku Ketut Ludri (50) dan Jro Mangku Nengah Widi (37), piodalan di Pura ini dilaksanakan dua kali setahun masing-masing saat Purnama Desta dan Sasih Kasa Purnama Kasa, Pangelong Ping Tiga (sasih gemuh) yang jatuh 13 Juli 2006. Sedangkan piodalan Purnama Desta nanti pada 12 Mei 2006. Menurut Jro Mangku, pada piodalan Purnama Desta, diikuti pangempon pura ini yaitu warga Desa Adat Bangkah, Tejakula. Sedangkan pada saat piodalan Sasih Kasa, diikuti warga se-Kecamatan Tejakula. Saat odalan atau Purnama Tilem, banyak warga pedek tangkil ke pura ini, termasuk para pejabat. “Biasanya banyak yang nunas tamba, melukat dan nunas keselamatan,” ujar Jro Mangku Nengah Widi.

Konsep Nyegara Gunung
Ada tradisi yang ada hingga sekarang dan masih berjalan di wilayah Pura Ponjok Batu. Pura ini memiliki hubungan dengan Pura Bukit Sinunggal di Desa Tajun, Kubutambahan. Setiap ada upacara melasti Ida Batara di Pura Bukit Sinunggal dan Pura-pura lain di Tajun, upacara pemelastian selalu diselenggarkan di Pura Ponjok Batu karena di sana terdapat sumber air tawar yang memiliki kesucian dan dikatakan sebagai air campuhan antara air darat dan laut.

Hubungan antara Pura Ponjok Batu dan Pura Bukit Sinunggal sangat erat. Pura Ponjok Batu sebagai zenit bawah dan Pura Bukit Sinunggak di Tajun sebagai zenit atas. Ini membuktikan adanya keserasian yang kekal antara segara dan gunung. Bali punya nilai spiritual sangat tinggi karena sepanjang pantai Bali Utara, jarak pantai dan gunung sangat berdekatan, sehingga tingkat kesucian segara sama dengan kesucian daerah pegunungan. Karena itu, upacara nyegara gunung dalam upacara pitra yadnya sangat penting dilaksanakan. (ari)

source : BaliPost

Leave a Reply